Rabu, 27 Agustus 2014

KARAKTERISTIK FAKTOR RESIKO ULKUS DIABETIK PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS DI RSUD SIWA KAB.WAJO TAHUN 2012

ABSTRAK
Prgram Studi Ilmu Keperawatan UIT, Skripsi April 2012 “Karakteristik Faktor Resiko Ulkus Diabetika Pada Penderita Diabetes Mellitus di Rumah Sakit Umum Siwa Kab.Wajo.”(dibimbing oleh Harliani). Ulkus diabetika adalah salah satu bentuk komplikasi kronik Diabetes mellitus berupa luka terbuka pada permukaan kulit yang dapat disertai adanya kematian jaringan setempat.Karena itu dilakukan penelitian terhadap karakteristik faktor resiko Ulkus Diabetika pada penderita Diabetes Mellitus di Rumah Sakit Umum Siwa Wajo. Tujuan penelitian untuk mengetahui karakteristik umur, lama menderita DM, obesitas, kadar gula darah tidak terkontrol dengan terjadinya ulkus diabetik pada penderita Diabetes Mellitus di Rumah Sakit Umum Siwa Wajo. Penelitian ini menggunakan Deskriptif Observasional dengan metode cross sectional. Hasil penelitian diperoleh melalui kuesioner, tekhnik pengambilan sampel dengan menggunakan insidental sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 14 responden. Ulkus Diabetika dikatakan beresiko terjadi pada penderita Diabetes Mellitus dengan umur 

BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Sistem Kesehatan Nasional menyatakan bahwa segala upaya dalam pembangunan kesehatan di Indonesia diarahkan untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal yang memungkinkan orang hidup lebih produktif baik sosial maupun ekonomi. Dengan meningkatnya status sosial dan ekonomi, pelayanan kesehatan masyarakat, perubahan gaya hidup, bertambahnya umur harapan hidup, maka di Indonesia mengalami pergeseran pola penyakit dari penyakit menular menjadi penyakit tidak menular, hal ini di kenal dengan transisi epidemiologi. Kecenderungan meningkatnya prevalensi penyakit tidak menular salah satunya adalah Diabetes mellitus.
Diabetes mellitus merupakan suatu penyakit kronik yang ditandai oleh kadar glukosa darah melebihi normal dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan oleh kekurangan hormon insulin secara relative maupun absolut. Bila hal ini dibiarkan tidak terkendali dapat terjadi komplikasi metabolik akut maupun komplikasi vaskuler jangka panjang, baik mikroangiopati maupun makroangiopati.
Jumlah penderita Diabetes mellitus di dunia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, hal ini berkaitan dengan jumlah populasi yang meningkat, life expectancy bertambah, urbanisasi yang merubah pola hidup tradisional ke pola hidup modern, prevalensi obesitas meningkat dan kegiatan fisik kurang. Diabetes mellitus perlu diamati karena sifat penyakit yang kronik progresif, jumlah penderita semakin meningkat dan banyak dampak negatif yang ditimbulkan.
Diabetes mellitus dibandingkan dengan penderita non Diabetes mellitus mempunyai kecenderungan 2 kali lebih mudah mengalami trombosis serebral, 25 kali terjadi buta, 2 kali terjadi penyakit jantung koroner, 17 kali terjadi gagal ginjal kronik, dan 50 kali menderita ulkus diabetika. Komplikasi menahun Diabetes mellitus di Indonesia terdiri atas neuropati 60%, penyakit jantung koroner 20,5%, ulkus diabetika 15%, retinopati 10%, dan nefropati 7,1%.
Penderita Diabetes mellitus berisiko 29 kali terjadi komplikasi ulkus diabetika. Ulkus diabetika merupakan luka terbuka pada permukaan kulit yang disebabkan adanya makroangiopati sehingga terjadi vaskuler insusifiensi dan neuropati. Ulkus diabetika mudah berkembang menjadi infeksi karena masuknya kuman atau bakteri dan adanya gula darah yang tinggi menjadi tempat yang strategis untuk pertumbuhan kuman.
Ulkus diabetika kalau tidak segera mendapatkan pengobatan dan perawatan, maka akan mudah terjadi infeksi yang segera meluas dan dalam keadaan lebih lanjut memerlukan tindakan amputasi. Ulkus diabetika merupakan komplikasi menahun yang paling ditakuti dan mengesalkan bagi penderita DM, baik ditinjau dari lamanya perawatan, biaya tinggi yang diperlukan untuk pengobatan yang menghabiskan dana 3 kali lebih banyak dibandingkan tanpa ulkus.
Prevalensi penderita ulkus diabetika di Indonesia sekitar 15%, angka amputasi 30%, angka mortalitas 32% dan ulkus diabetika merupakan sebab perawatan rumah sakit yang terbanyak sebesar 80% untuk Diabetes mellitus.
Penderita ulkus diabetika di Indonesia memerlukan biaya yang tinggi sebesar 1,3 juta sampai Rp. 1,6 juta perbulan dan Rp. 43,5 juta per tahun untuk seorang penderita.
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Wajo jumlah penderita Diabetes mellitus pada tahun 2010 sebesar  240 orang dan meningkat pada tahun 2011 menjadi 302 orang.
Di Rumah Sakit Siwa Kecamatan Pitumpanua pada tahun 2010 terdapat penderita Diabetes mellitus sebesar  54 dan meningkat tahun 2011 menjadi 85 penderita, diantaranya menderita ulkus diabetika pada tahun 2010 sebesar 13 penderita dan meningkat pada tahun 2011 menjadi 22  penderita. Dimana rata-rata penderita berusia >50 tahun,obesitas dan memiliki riwayat menderita Diabetes Mellitus yang sudah cukup lama serta kadar glukosa darah yang tidak terkontrol.

Penelitian case control oleh Pract bahwa faktor risiko yang dapat diubah berhubungan dengan terjadinya ulkus diabetika meliputi tidak terkontrolnya kadar glukosa darah, kolesterol total, HDL, dan trigliserida. Penelitian case control oleh Toton Suryatono bahwa neuropati merupakan faktor risiko terjadinya ulkus diabetika. Penelitian Prospective oleh Boyko bahwa lama DM ≥ 10 tahun dan obesitas berhubungan dengan terjadinya ulkus diabetika. Penelitian oleh Cassano bahwa merokok merupakan faktor risiko terjadinya ulkus diabetika. Penelitian oleh David bahwa ketidakpatuhan diet merupakan faktor risiko terjadinya ulkus diabetika. Penelitian oleh Rocher, Calle, dan Gayle bahwa kurang aktivitas fisik, perawatan kaki tidak teratur, dan penggunaan alas kaki tidak tepat merupakan faktor risiko terjadinya ulkus diabetika. Penelitian oleh Robert bahwa umur ≥ 60 tahun dan hipertensi merupakan faktor risiko terjadinya ulkus diabetika.
B.    Perumusan Masalah
   Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dari penelitian  tersebut adalah : “ Bagaimanakah karakteristik faktor resiko terjadinya ulkus diabetik pada penderita Diabetes Mellitus?”                                    . C.Tujuan Penelitian
1.    Tujuan Umum
Untuk mengetahui karakteristik faktor resiko terjadinya ulkus diabetik pada penderita Diabetes Mellitus.
2.    Tujuan Khusus
a.         Untuk mengetahui umur dengan terjadinya ulkus diabetik pada penderita Diabetes Mellitus.
b.        Untuk mengetahui lama menderita Diabetes Mellitus dengan terjadinya ulkus diabetik pada penderita Diabetes Mellitus.
c.         Untuk mengetahui obesitas dengan terjadinya ulkus diabetik pada penderita Diabetes Mellitus.
d.        Untuk mengetahui kadar gula darah tidak terkontrol dengan  terjadinya ulkus diabetik  pada penderita Diabetes Mellitus.
 
D.   Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.         Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai informasi bagi peneliti-peneliti selanjutnya khususnya dalam bidang keperawatan medikal bedah. Dan sebagai bahan kepustakaan tentang karakteristik faktor-faktor risiko terjadinya ulkus diabetik pada penderita Diabetes mellitus khususnya di Universitas Indonesia Timur.
2.    Institusi Kesehatan (Dinas Kesehatan , Rumah Sakit)
Memberikan informasi tentang karakeristik faktor-faktor resiko terjadinya ulkus diabetik pada penderita Diabetes mellitus sehingga rumah sakit/dinas kesehatan dapat mengambil policy atau melaksanakan tindakan yang dapat menekan kejadian ulkus diabetik pada penderita DM melalui program pencegahan kejadian ulkus diabetik.
3.    Peneliti
Sebagai suatu wadah untuk mengaplikasikan ilmu dan pengetahuan bagi peneliti untuk menambah wawasan ilmiah dan khasanah ilmu pengetahuan.

       BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.   Tinjauan Umum
1.    Diabetes Mellitus
a.    Definisi Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus adalah kelainan yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang melebihi normal (hiperglikemia) dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan oleh kekurangan hormone insulin secara relatif maupun absolut, apabila dibiarkan tidak terkendali dapat terjadinya komplikasi metabolik akut maupun komplikasi vaskuler jangka panjang yaitu mikroangiopati dan makroangiopati.
Diabetes Mellitus adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, gangguan kerja insulin atau keduanya, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah.
b.    Klasifikasi dan Diagnosis Diabetes Mellitus
Klasifikasi DM yang dianjurkan oleh PERKENI adalah yang sesuai dengan anjuran klasifikasi DM American Diabetes Association (ADA) 2007.
Klasifikasi etiologi Diabetes mellitus, menurut ADA 2007 adalah sebagai berikut:
1). Diabetes tipe 1 (destruksi sel beta, umumnya menjurus ke     defisiensi insulin absolut):
(a). Autoimun.
(b). Idiopatik.
2).   Diabetes tipe 2. (bervariasi mulai yang terutama dominan resistensi insulin disertai defesiensi insulin relatif sampai yang terutama defek sekresi insulin disertai resistensi insulin).
3).   Diabetes tipe lain.
a)    Defek genetik fungsi sel beta.
b)    Defek genetik kerja insulin.
c)    Penyakit eksokrin pankreas.
d)    Endokrinopati.
e)    Karena obat/ zat kimia.
f)     Infeksi: rubella kongenital, sitomegalovirus.
g)    Sebab imunologi yang jarang: antibodi insulin.
h)   Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM: Sindrom Down, Sindrom Klinefelter, Sindrom Turner dan lain-lain.
4).   Diabetes mellitus Gestasional (DMG).
       Kriteria diagnosis DM menurut WHO tahun 2000 dan ADA tahun 2007 dapat dilihat pada tabel 1 dan tabel 2 di bawah ini :
Tabel 1 Kriteria Diagnostik Diabetes mellitus WHO Tahun 2000
No.
Kriteria Diagnostik DM menurut WHO 2000
1.
Normo-glikemia, bila GDP < 110 mg/dl atau GD2JPP < 140 mg/dl
2.
IFG atau IGT, bila FPG > 110 mg/dl dan IFG < 126 mg/dl
3.
Diabetes, bila FGP > 126 mg/dl atau GD2JPP > 200 mg/dl atau ditemukannya gejala-gejala Diabetes dengan konsentrasi glukosa plasma sewaktu > 200 mg/dl
Sumber : WHO, 2000
Tabel 2 Kriteria Diagnostik Diabetes mellitus menurut ADA 2007
No.
Kriteria Diagnostik DM menurut ADA 2007
1.
Gejala klasik DM dengan glukosa darah sewaktu ≥ 200 mg/ dl (11.1 mmol/L).
Glukosa darah sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir.
Gejala klasik adalah: poliuria, polidipsia dan berat badan turun tanpa sebab.
2.
Kadar glukosa darah puasa ≥ 126 mg/ dl (7.0 mmol/L).
Puasa adalah pasien tak mendapat kalori sedikitnya 8 jam.
3.
Kadar glukosa darah 2 jam PP ≥ 200 mg/ dl (11,1 mmol/L)
TTGO dilakukan dengan standar WHO, menggunakan beban glukosa yang setara dengan 75 g glukosa anhidrus yang dilarutkan ke dalam air.
Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal atau DM, maka dapat digolongkan ke dalam kelompok TGT atau GDTP tergantung dari hasil yang diperoleh :
TGT : glukosa darah plasma 2 jam setelah beban antara 140-199 mg/dl (7,8-11,0 mmol/L)
GDPT : glukosa darah puasa antara 100 – 125 mg/dl(5,6-6,9 mmol/L)
           Sumber : ADA 2007.

c.    Gejala dan Tanda-Tanda Diabetes mellitus
Gejala dan tanda-tanda DM dapat digolongkan menjadi gejala akut dan gejala kronik.
1).   Gejala Akut Penyakit Diabetes mellitus
Gejala penyakit DM dari satu penderita ke penderita lain bervariasi bahkan, mungkin tidak menunjukkan gejala apa pun sampai saat tertentu.
(a). Pada permulaan gejala yang ditunjukkan meliputi serba banyak (Poli), yaitu : Banyak makan (poliphagia),Banyak minum (polidipsia),Banyak kencing (poliuria).
(b).  Bila keadaan tersebut tidak segera diobati, akan timbul gejala:
(1)  Banyak minum.
(2)  Banyak kencing.
(3)  Nafsu makan mulai berkurang/ berat badan    turun dengan cepat (turun 5 – 10 kg dalam waktu 2 – 4 minggu).
(4)  Mudah lelah.
(5)  Bila tidak lekas diobati, akan timbul rasa mual, bahkan penderita akan jatuh koma yang disebut dengan koma diabetik.
2).   Gejala Kronik Diabetes mellitus
Gejala kronik yang sering dialami oleh penderita Diabetes mellitus adalah sebagai berikut:
a)    Kesemutan.
b)    Kulit terasa panas, atau seperti tertusuk-tusuk jarum.
c)    Rasa tebal di kulit.
d)    Kram.
e)    Capai.
f)     Mudah mengantuk.
g)    Mata kabur, biasanya sering ganti kacamata.
h)   Gatal di sekitar kemaluan terutama wanita.
i)     Gigi mudah goyah dan mudah lepas kemampuan seksual menurun, bahkan impotensi.
j)      Para ibu hamil sering mengalami keguguran atau kematian janin dalam kandungan, atau dengan bayi berat lahir lebih dari 4 kg.
d.    Patogenesis Diabetes mellitus
Diabetes mellitus merupakan penyakit yang disebabkan oleh adanya kekurangan insulin secara relatif maupun absolut. Defisiensi insulin dapat terjadi melalui 3 jalan, yaitu :
1).   Rusaknya sel-sel β pankreas karena pengaruh dari luar (virus, zat kimia tertentu, dll).
2). Desensitasi atau penurunan reseptor glukosa pada kelenjar pankreas.
3).   Desensitas/kerusakan reseptor insulin (down regulation) di jaringan perifer.
Apabila di dalam tubuh terjadi kekurangan insulin, maka dapat mengakibatkan :
1).   Menurunnya transport glukosa melalui membran sel, keadaan ini mengakibatkan sel-sel kekurangan makanan sehingga meningkatkan metabolisme lemak dalam tubuh. Manifestasi yang muncul adalah penderita Diabetes mellitus selalu merasa lapar atau nafsu makan meningkat ”poliphagia”.
2).   Menurunnya glikogenesis, dimana pembentukan glikogen dalam hati dan otot terganggu.
3). Meningkatnya pembentukan glikolisis dan glukoneogenesis, karena proses ini disertai nafsu makan meningkat atau poliphagia sehingga dapat mengakibatkan terjadinya hiperglikemi. Kadar gula darah tinggi mengakibatkan ginjal tidak mampu lagi mengabsorpsi dan glukosa keluar bersama urin, keadaan ini yang disebut glukosuria. Manifestasi yang muncul yaitu penderita sering berkemih atau poliuria dan selalu merasa haus atau polidipsia.
e.    Faktor Risiko Diabetes Mellitus
Faktor-faktor risiko terjadinya Diabetes mellitus menurut ADA dengan modifikasi terdiri atas :
1).   Faktor risiko mayor :
(a). Riwayat keluarga DM.
(b). Obesitas.
(c). Kurang aktivitas fisik.
(d). Ras/Etnik.
(e). Sebelumnya teridentifikasi sebagai IFG.
(f). Hipertensi.
(g). Tidak terkontrol kolesterol dan HDL.
(h). Riwayat DM pada Kehamilan.
2).   Faktor risiko lainnya :
(a) Faktor nutrisi.
(b) Konsumsi alkohol.
(c)   Faktor stress.
(d) Kebiasaan merokok.
(e) Jenis pekerjaan.
(f)   Intake zat besi.
(g) Konsumsi kopi dan kafein.

f.     Penatalaksanaan Diabetes mellitus
Tujuan pengelolaan Diabetes mellitus adalah :
1)    Tujuan jangka pendek yaitu menghilangkan gejala/keluhan dan  mempertahankan rasa nyaman dan tercapainya target  pengendalian darah.
2)    Tujuan jangka panjang yaitu mencegah komplikasi, mikroangiopati dan makroangiopati dengan tujuan menurunkan mortalitas dan morbiditas.
Prinsip pengelolaan Diabetes mellitus, meliputi :
1)    Penyuluhan
Tujuan penyuluhan yaitu meningkatkan pengetahuan diabetisi tentang penyakit dan pengelolaannya dengan tujuan dapat merawat sendiri sehingga mampu mempertahankan hidup dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Penyuluhan meliputi :
(a). Penyuluhan untuk pencegahan primer
Ditujukan untuk kelompok risiko tinggi.
(b). Penyuluhan untuk pencegahan sekunder
Ditujukan pada diabetisi terutama pasien yang baru.
(c)   Penyuluhan untuk pencegahan tersier
Ditujukan pada diabetisi lanjut, dan materi yang diberikan meliputi : cara perawatan dan pencegahan komplikasi, upaya untuk rehabilitasi, dll.
2).   Diet Diabetes Mellitus
Tujuan Diet pada Diabetes mellitus adalah mempertahankan atau mencapai berat badan ideal, mempertahankan kadar glukosa darah mendekati normal, mencegah komplikasi akut dan kronik serta meningkatkan kualitas hidup.
Penderita Diabetes mellitus didalam melaksanakan diet harus memperhatikan 3 J, yaitu : jumlah kalori yang dibutuhkan, jadwal makan yang harus diikuti, dan jenis makanan yang harus diperhatikan.
Komposisi makanan yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi seimbang yaitu yang mengandung karbohidrat ( 45-60%), Protein (10-15%) , lemak (20-25%), garam (≤ 3000 mg atau 6-7 gr perhari), dan serat (± 25 g/hr).
Jenis buah-buahan yang dianjurkan adalah buah golongan B (salak, tomat, dll) dan yang tidak dianjurkan golongan A (nangka, durian, dll), sedangkan sayuran yang dianjurkan golongan A (wortel, nangka muda, dll) dan tidak dianjurkan golongan B (taoge, terong, dll).
Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori antara lain :
(a)  Jenis Kelamin
Kebutuhan kalori pria sebesar 30 kal/kg BB dan wanita sebesar 25 kal/kg BB.

(b). Umur
Diabetisi di atas 40 tahun kebutuhan kalori dikurangi yaitu usia 40-59 tahun dikurangi 5%, usia 60-69 tahun dikurangi 10%, dan lebih 70 tahun dikurang 20%.
(c). Aktifitas Fisik
Kebutuhan kalori dapat ditambah sesuai dengan intensitas aktivitas fisik. Aktivitas ringan ditambahkan 20%, aktivitas sedang ditambahkan 30%, dan aktivitas berat dapat ditambahkan 50%.
(d). Berat badan
Bila kegemukan dikurangi 20-30% tergantung tingkat kegemukan. Bila kurus ditambah 20-30% sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan BB.
(e). Kondisi Khusus
Penderita kondisi khusus, misal dengan ulkus diabetika atau infeksi, dapat ditambahkan 10-20%.
3).   Latihan Fisik (Olah Raga).
Tujuan olah raga adalah untuk meningkatkan kepekaan insulin, mencegah kegemukan, memperbaiki aliran darah, merangsang pembentukan glikogen baru dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

4.    Pengobatan
Jika diabetisi telah menerapkan pengaturan makanan dan kegiatan jasmani yang teratur namun pengendalian kadar gula darah belum tercapai maka dipertimbangkan pemberian obat. Obat meliputi : obat hipoglikemi oral ( OHO) dan insulin.
Pemberian obat Hipoglikemi Oral diberikan kurang lebih 30 menit sebelum makan. Pemberian insulin biasanya diberikan lewat penyuntikan di bawah kulit (subkutan) dan pada keadaan khusus diberikan secara intravena atau intramuskuler.
5).   Pemantauan Pengendalian Diabetes dan Pencegahan Komplikasi
Tujuan pengendalian Diabetes mellitus adalah menghilangkan gejala, memperbaiki kualitas hidup, mencegah komplikasi akut dan kronik, mengurangi laju perkembangan komplikasi yang sudah ada.
Pemantauan dapat dilakukan dengan pemeriksaan glukosa darah puasa dan 2 jam post prandial, pemeriksaan HbA1C setiap 3 bulan, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan kurang lebih 4 X pertahun (kondisi normal) dan dilakukan pemeriksaan jasmani lengkap, albuminuria mikro, kreatinin, albumin globulin, ALT, kolesterol total, HDL, trigliserida, dan pemeriksaan lain yang diperlukan.
g.    Komplikasi Diabetes mellitus
Komplikasi-komplikasi pada Diabetes mellitus dapat dibagi menjadi dua yaitu :
1). Komplikasi Metabolik Akut
   Komplikasi akut terdiri dari dua bentuk yaitu hipoglikemia dan hiperglikemia. Hiperglikemia dapat berupa, Keto Asidosis Diabetik (KAD), Hiperosmolar Non Ketotik (HNK) dan Asidosis Laktat (AL). Hipoglikemi yaitu apabila kadar gula darah lebih rendah dari 60 mg % dan gejala yang muncul yaitu palpitasi, takhicardi, mual muntah, lemah, lapar dan dapat terjadi penurunan kesadaran sampai koma. Hiperglikemi yaitu apabila kadar gula darah lebih dari 250 mg % dan gejala yang muncul yaitu poliuri, polidipsi pernafasan kussmaul, mual muntah, penurunan kesadaran sampai koma.
  KAD menempati peringkat pertama komplikasi akut disusul oleh hipoglikemia. Komplikasi akut ini masih merupakan masalah utama, karena angka kematiannya cukup tinggi.
2).   Komplikasi Metabolik Kronik
Komplikasi kronik pada dasarnya terjadi pada semua pembuluh darah di seluruh bagian tubuh (Angiopati diabetik). Angiopati diabetik untuk memudahkan dibagi menjadi dua yaitu: makroangiopati (makrovaskuler) dan mikroangiopati (mikrovaskuler), yang tidak berarti bahwa satu sama lain saling terpisah dan tidak terjadi sekaligus bersamaan. Komplikasi kronik DM yang sering terjadi adalah sebagai berikut:
a)    Mikrovaskuler : Ginjal, Mata.
b)    Makrovaskuler : Penyakit jantung koroner, Pembuluh darah kaki, Pembuluh darah otak.
c)    Neuropati: mikro dan makrovaskuler
d)    Mudah timbul ulkus atau infeksi : mikrovaskuler dan makrovaskuler
2.    Ulkus diabetika
a.    Definisi
Ulkus diabetika adalah salah satu bentuk komplikasi kronik Diabetes mellitus berupa luka terbuka pada permukaan kulit yang dapat disertai adanya kematian jaringan setempat.
Ulkus diabetika merupakan luka terbuka pada permukaan kulit karena adanya komplikasi makroangiopati sehingga terjadi vaskuler insusifiensi dan neuropati, yang lebih lanjut terdapat luka pada penderita yang sering tidak dirasakan, dan dapat berkembang menjadi infeksi disebabkan oleh bakteri aerob maupun anaerob.
b.    Klasifikasi
Klasifikasi Ulkus diabetika pada penderita Diabetes mellitus menurut Wagner dikutip oleh Waspadji S, terdiri dari 5 tingkatan :
0 :   Tidak ada luka terbuka, kulit utuh.
1 :   Ulkus Superfisialis, terbatas pada kulit.
2 :   Ulkus lebih dalam sering dikaitkan dengan inflamasi jaringan.
3 :   Ulkus dalam yang melibatkan tulang, sendi dan formasi abses.
4 :   Ulkus dengan kematian jaringan tubuh terlokalisir seperti pada ibu jari kaki, bagian depan kaki atau tumit.
5 :  Ulkus dengan kematian jaringan tubuh pada seluruh kaki.
c.    Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala ulkus diabetika yaitu :
1).   Sering kesemutan.
2).   Nyeri kaki saat istirahat.
3).   Sensasi rasa berkurang.
4).   Kerusakan Jaringan (nekrosis).
5).   Penurunan denyut nadi arteri dorsalis pedis, tibialis dan poplitea.
6).   Kaki menjadi atrofi, dingin dan kuku menebal.
7).   Kulit kering.
d.    Diagnosis Ulkus diabetika
Diagnosis ulkus diabetika meliputi :
1)    Pemeriksaan Fisik : inspeksi kaki untuk mengamati terdapat luka/ulkus pada kulit atau jaringan tubuh pada kaki, pemeriksaan sensasi vibrasi/rasa berkurang atau hilang, palpasi denyut nadi arteri dorsalis pedis menurun atau hilang.
2). Pemeriksaan Penunjang : X-ray, EMG dan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui apakah ulkus diabetika menjadi infeksi dan menentukan kuman penyebabnya.
e.    Patogenesis Ulkus diabetika
Salah satu akibat komplikasi kronik atau jangka panjang Diabetes mellitus adalah ulkus diabetika. Ulkus diabetika disebabkan adanya tiga faktor yang sering disebut Trias yaitu : Iskemik, Neuropati, dan Infeksi.
Pada penderita DM apabila kadar glukosa darah tidak terkendali akan terjadi komplikasi kronik yaitu neuropati, menimbulkan perubahan jaringan syaraf karena adanya penimbunan sorbitol dan fruktosa sehingga mengakibatkan akson menghilang, penurunan kecepatan induksi, parastesia, menurunnya reflek otot, atrofi otot, keringat berlebihan, kulit kering dan hilang rasa, apabila diabetisi tidak hati-hati dapat terjadi trauma yang akan menjadi ulkus diabetika.
Iskemik merupakan suatu keadaan yang disebabkan oleh karena kekurangan darah dalam jaringan, sehingga jaringan kekurangan oksigen. Hal ini disebabkan adanya proses makroangiopati pada pembuluh darah sehingga sirkulasi jaringan menurun yang ditandai oleh hilang atau berkurangnya denyut nadi pada arteri dorsalis pedis, tibialis dan poplitea, kaki menjadi atrofi, dingin dan kuku menebal. Kelainan selanjutnya terjadi nekrosis jaringan sehingga timbul ulkus yang biasanya dimulai dari ujung kaki atau tungkai.
Aterosklerosis merupakan sebuah kondisi dimana arteri menebal dan menyempit karena penumpukan lemak pada bagian dalam pembuluh darah. Menebalnya arteri di kaki dapat mempengaruhi otot-otot kaki karena berkurangnya suplai darah, sehingga mengakibatkan kesemutan, rasa tidak nyaman, dan dalam jangka waktu lama dapat mengakibatkan kematian jaringan yang akan berkembang menjadi ulkus diabetika.
Proses angiopati pada penderita Diabetes mellitus berupa penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah perifer, sering terjadi pada tungkai bawah terutama kaki, akibat perfusi jaringan bagian distal dari tungkai menjadi berkurang kemudian timbul ulkus diabetika.
Pada penderita DM yang tidak terkendali akan menyebabkan penebalan tunika intima (hiperplasia membram basalis arteri) pada pembuluh darah besar dan pembuluh kapiler bahkan dapat terjadi kebocoran albumin keluar kapiler sehingga mengganggu distribusi darah ke jaringan dan timbul nekrosis jaringan yang mengakibatkan ulkus diabetika.
Eritrosit pada penderita DM yang tidak terkendali akan meningkatkan HbA1C yang menyebabkan deformabilitas eritrosit dan pelepasan oksigen di jaringan oleh eritrosit terganggu, sehingga terjadi penyumbatan yang menggangu sirkulasi jaringan dan kekurangan oksigen mengakibatkan kematian jaringan yang selanjutnya timbul ulkus diabetika.
Peningkatan kadar fibrinogen dan bertambahnya reaktivitas trombosit menyebabkan tingginya agregasi sel darah merah sehingga sirkulasi darah menjadi lambat dan memudahkan terbentuknya trombosit pada dinding pembuluh darah yang akan mengganggu sirkulasi darah.
Penderita Diabetes mellitus biasanya kadar kolesterol total, LDL, trigliserida plasma tinggi. Buruknya sirkulasi ke sebagian besar jaringan akan menyebabkan hipoksia dan cedera jaringan, merangsang reaksi peradangan yang akan merangsang terjadinya aterosklerosis.
Perubahan/inflamasi pada dinding pembuluh darah, akan terjadi penumpukan lemak pada lumen pembuluh darah, konsentrasi HDL (highdensity-lipoprotein) sebagai pembersih plak biasanya rendah.
Adanya faktor risiko lain yaitu hipertensi akan meningkatkan kerentanan terhadap aterosklerosis. Konsekuensi adanya aterosklerosis yaitu sirkulasi jaringan menurun sehingga kaki menjadi atrofi, dingin dan kuku menebal. Kelainan selanjutnya terjadi nekrosis jaringan sehingga timbul ulkus yang biasanya dimulai dari ujung kaki atau tungkai.
Pada penderita DM apabila kadar glukosa darah tidak terkendali menyebabkan abnormalitas lekosit sehingga fungsi khemotoksis di lokasi radang terganggu, demikian pula fungsi fagositosis dan bakterisid menurun sehingga bila ada infeksi mikroorganisme sukar untuk dimusnahkan oleh sistem phlagositosis-bakterisid intra selluler.
Pada penderita ulkus diabetika, 50 % akan mengalami infeksi akibat adanya glukosa darah yang tinggi, yang merupakan media pertumbuhan bakteri yang subur. Bakteri penyebab infeksi pada ulkus diabetika yaitu kuman aerobik Staphylokokus atau Streptokokus serta kuman anaerob yaitu Clostridium perfringens, Clostridium novy, dan Clostridium septikum.
 f.     Faktor Risiko Ulkus diabetika
Faktor risiko terjadi ulkus diabetika pada penderita Diabetes mellitus menurut Lipsky dengan modifikasi dikutip oleh Riyanto dkk. terdiri atas :
1).   Faktor-faktor risiko yang tidak dapat diubah :
(a)  Umur ≥ 60 tahun.
(b)  Lama DM ≥ 10 tahun.
2).   Faktor-Faktor Risiko yang dapat diubah :
(termasuk kebiasaan dan gaya hidup)
a)    Obesitas.
b)    Kadar glukosa darah tidak terkontrol.
c)    Kebiasaan merokok.
d)    Ketidakpatuhan Diet DM.
e)    Kurangnya aktivitas Fisik.
f)     Pengobatan tidak teratur.
g)    Perawatan kaki tidak teratur.
h)   Penggunaan alas kaki tidak tepat.
Faktor-faktor resiko terjadinya ulkus diabetik lebih lanjut
dijelaskan sebagai berikut :
a)    Umur
Umur ≥60 thn beresiko terjadi ulkus diabetik karena pada usia tersebut fungsi tubuh secara fisiologis menurun karena proses degenerative terjadi penurunan sekresi atau resistensi insulin sehingga kemampuan fungsi tubuh terhadap pengendalian glukosa darah yang tinggi kurang optimal.
Keluhan umum penderita DM usia lanjut seperti : Poliuria, Polidipsi, dan polifagia umumnya tidak ada, sebaliknya yang sering mengganggu penderita adalah akibat komplikasi degenaratif kronik pada pembuluh darah, akibat terdapat perubahan fatofisiologi karena proses menjadi tua.
b)    Lama menderita DM
Ulkus diabetik terutama terjadi pada penderita yang lama menderita DM ≥10 tahun, apabila kadar glukosa darah tidak terkendali, akan muncul komplikasi yang berhubungan dengan vaskuler sehingga mengalami makroangiopati dan mikroangiopati yang akan terjadi vaskulopati dan neuropati yang mengakibatkan menurunnya sirkulasi darah dan apabila ada luka pada kaki penderita sering tidak dirasakan
c)    Obesitas
Sudah sejak lama diketahui bahwa obesitas merupakan salah satu faktor resiko yang penting untuk timbulnya diabetes. Pada obesitas dengan IMT ≥ 23 kg/m² (wanita) dan IMT ≥ 25 kg/m² (pria) akan lebih sering terjadi resistensi insulin yang dapat menyebabkan aterosklerosis yang berdampak pada vaskulopati, sehingga terjadi gangguan sirkulasi darah sedang/besar pada tungkai yang menyebabkan tungkai akan mudah terjadi ulkus
d)    Kadar glukosa darah tidak terkontrol
Kadar glukosa darah tidak terkontrol ( GDP > 100 mg/dl dan GD2JPP > 144 mg/dl atau GDS ≥200mg/dl) akan mengakibatkan komplikasi kronik jangka panjang, baik makrovaskuler maupun mikrovaskuler salah satunya yaitu ulkus diabetik.
g.    Pencegahan dan Pengelolaan Ulkus diabetik
Pencegahan dan pengelolaan ulkus diabetik untuk mencegah komplikasi lebih lanjut adalah :
1).   Memperbaiki kelainan vaskuler.
2).   Memperbaiki sirkulasi.
3).   Pengelolaan pada masalah yang timbul ( infeksi, dll).
4).   Edukasi perawatan kaki.
5).   Pemberian obat-obat yang tepat untuk infeksi (menurut hasil laboratorium lengkap) dan obat vaskularisasi, obat untuk penurunan gula darah maupun menghilangkan keluhan/gejala dan penyulit DM.
6).   Olah raga teratur dan menjaga berat badan ideal.
7).   Menghentikan kebiasaan merokok.
8).   Merawat kaki secara teratur setiap hari
9).   Penggunaan alas kaki tepat.
B.    Kerangka Konsep Penelitian
1.    Kerangka Konsep
Dasar pemikiran dari variabel yang akan diteliti adalah faktor resiko terjadinya ulkus diabetik pada penderita Diabetes mellitus terdiri atas :
1).   Faktor-faktor resiko yang tidak dapat diubah :
(a)  Umur ≥ 60 tahun.
(b)  Lama DM ≥ 10 tahun.
2).   Faktor-faktor resiko yang dapat diubah :
(termasuk kebiasaan dan gaya hidup)
a)    Obesitas.
b)    Kadar glukosa darah tidak terkontrol.
Adapun gambaran kerangka konsep penelitian dapat dilihat pada bagan berikut ini :
Umur
 
    Faktor Resiko :  









Lama menderita DM
 



Ulkus Diabetik pada penderita Diabetes Mellitus
 


Obesitas
 



Kadar glukosa darah tidak terkontrol
 

 





Berdasarkan landasan teori yang telah diuraikan pada tinjauan umum, maka peneliti membuat skema penelitian yang dapat diuraikan sebagai berikut : klien penderita diabetes melitus yang berada di wilayah kerja Rumah Sakit Siwa Kecamatan Pitumpanua,  baik dengan ulkus maupun tidak, dimana  akan dilihat karakteristik dari faktor risiko terjadinya ulkus diabetika sesuai yang dipaparkan pada kerangka konsep.                                           
2. Defenisi Operasional
Ulkus diabetik dalam penelitian ini adalah  berupa luka terbuka pada permukaan kulit yang dikeluhkan oleh responden.
Faktor-faktor resiko terjadinya ulkus diabetik sebagai berikut :
a.    Umur
Umur dalam penelitian ini adalah karakteristik dari umur  responden.
Kriteria objektif :  Bila responden memiliki umur ≥60 tahun beresiko terjadi ulkus diabetik.
b.    Lama menderita DM
Lama menderita DM dalam penelitian ini adalah  karakteristik lama menderita DM.
Kriteria objektif : Bila lama menderita DM ≥10 tahun atau lebih.
c.    Obesitas
Obesitas dalam penelitian ini adalah responden dengan  IMT ≥23 kg/m²  pada wanita dan IMT ≥25 kg/m² pada pria.
d.    Kadar glukosa darah tidak terkontrol
Kadar glukosa darah tidak terkontrol dalam penelitian ini adalah responden dengan GDP > 100 mg/dl dan GD2JPP > 144 mg/dl ) atau GDS ≥200 mg/dl.



BB III
METODE PENELITIAN


A.       Desain Penelitian
    Desain penelitian yang digunakan adalah Deskriptif Observasional, dimana peneliti hanya melakukan observasi dan pengukuran variabel pada satu saat tertentu saja. Pengukuran variabel tidak terbatas harus tepat pada satu waktu bersamaan, namun mempunyai makna bahwa setiap subyek hanya dikenali satu kali pengukuran,tanpa dilakukan tindak lanjut atau pengulangan pengukuran.
B.        Lokasi dan Waktu Pelaksanaan
Lokasi penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Siwa pada 16 April 2012 sampai dengan 28 April 2012.
 C.   Populasi dan sampel
 1.    Populasi
Populasi merupakan keseluruhan sumber data yang diperlukan dalam suatu penelitian.Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien yang menderita DM dengan ulkus dan tanpa ulkus yang datang berobat di Rumah Sakit Umum Daerah Siwa,pada tahun 2012.

2.   Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang mewakili suatu populasi. Sampel diambil dengan menggunakan accidental sampling. Dengan jumlah sampel 14 orang.
 D.    Instrumen Pengumpulan Data
1.      Alat yang digunakan
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini :
a)      Lembaran kuesioner
b)      Alat tulis menulis
2.      Cara pengumpulan data
Data yang dikumpulkan adalah data yang diperoleh dari pengisian kuesioner.
E.      Teknik Pengumpulan Data
    Dalam penelitian ini sumber data yang digunakan adalah data primer. data primer disebut juga data tangan pertama yang diperoleh langsung dari subyek penelitian dengan menggunakan alat pengukuran atau alat pengambil data. Variabel penelitian dari data primer yaitu : umur, lama menderita DM, Obesitas, kadar glukosa darah tidak terkontrol.
Pada penelitian ini,peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan instrument berupa kusioner yang digunakan untuk memperoleh informasi dari respondens tentang hal-hal yang ingin diketahui. Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk menajamkan penggalian informasi penting adalah dengan wawancara mendalam ( Indepth Interview).
F.      Pengolahan Data
Dalam penelitian ini, teknik pengolahan data yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1.      Editing
Proses editing dilakukan setelah data terkumpul dan dilakukan dengan memeriksa kelengkapan data, memeriksa kesinambungan data dan memeriksa keseragaman data.
2.      Koding
Dilakukan untuk memudahkan dalam pengolahan data, semua jawaban atau data perlu disederhanakan yaitu memberikan simbol-simbol tertentu, untuk setiap jawaban (pengkodean). Pengkodean dilakukan dengan memberi nomor halaman daftar pertanyaan, nomor pertanyaan, nomor variabel, nama variabel dan kode.
3.      Tabulasi Data
Dilakukan untuk memudahkan dalam pengolahan data ke dalam suatu table menurut sifat-sifat yang dimiliki sesuai dengan tujuan penelitian, tabel mudah untuk dianalisa. Tabel tersebut dapat berupa tabel sederhana maupun tabel silang.

G.      Analisa Data
Adapun teknik analisis yang digunakan adalah analisis univariat untuk mendapatkan gambaran umum dengan cara mendeskripsikan tiap variabel yang digunakan dalam penelitian yaitu melihat distribusi frekuensinya.
H.     Etika Penelitian
Dalam melakukan penelitian,peneliti memandang perlu adanya rekomendasi dari pihak pendidikan dengan mengajukan permohonan izin kepada instansi tempat penelitian. Adapun kaidah dari etika penelitian adalah :
1.      Lembar Persetujuan Penelitian ( Informed consent)
Lembar persetujuan diedarkan sebelum penelitian dilaksanakan agar respondens mengetahui maksud dan tujuan penelitian,serta dampak yang akan terjadi selama dalam pengumpulan data.Jika responden bersedia diteliti mereka harus menandatangani lembar persetujuan tersebut jika tidak peneliti harus menghormati hak-hak responden.
2.      Tanpa Nama ( anominaty)
Untuk menjaga kerahasiaan identitas responden,peneliti tidak akan mencantumkan nama subyek pada lembar pengumpulan data(kusioner)yang diisi oleh subyek.
3.      Kerahasiaan (Confindentiality)
 Kerahasiaan informasi yang telah dikumpulkan dari subyek dijamin kerahasiaannya.hanya kelompok data tertentu saja yang akan dilaporkan pada hasil riset.


BAB V
PENUTUP
A.        Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka kesimpulan yang didapatkan bahwa :
1.      Ulkus diabetik beresiko terjadi pada penderita DM dengan umur <60 tahun. Dimana dari 14 responden terdapat 10 orang yang berumur <60 tahun, dan hanya 4 orang yang berumur ≥60 tahun.
2.      Ulkus diabetik beresiko terjadi pada pasien yang lama menderita DM <10 tahun. Dimana dari 14 responden terdapat 13 orang yang lama menderita DM <10 tahun, dan hanya 1 orang yang lama menderita DM ≥10 tahun.
3.      Ulkus diabetik beresiko terjadi pada penderita DM yang obesitas. Dimana dari 14 responden semuanya adalah penderita ulkus  diabetik yang obesitas.
4.      Ulkus diabetik beresiko terjadi pada penderita DM yang memiliki kadar gula darah tidak terkontrol. Dimana dari 14 responden semuanya adalah penderita ulkus diabetik yang kadar gula darahnya tidak terkontrol.
B.       Saran
Adapun saran dari peneliti adalah sebagai berikut :
1.      Dianjurkan kepada pasien diabetes mellitus khususnya yang memiliki ulkus untuk senantiasa mengontrol berat badan dan kadar gula darahnya secara rutin.
2.      Menghindari seoptimal mungkin faktor-faktor yang beresiko terjadinya ulkus diabetik.
3.      Profesi keperawatan diharapkan dapat lebih meningkatkan pelayanan keperawatan penyakit dalam dan bedah yang lebih memperhatikan upaya promosi preventif.
4.      Rumah sakit diharapkan meningkatkan mutu pelayanan termasuk sarana dan prasarana sehingga dapat mengidentifikasi sedini mungkin kejadian ulkus diabetik pada penderita DM.
Perlunya pemberian informasi yang memadai mengenai faktor resiko ulkus diabetik pada penderita DM.
Posting Komentar